RSS

Senin, 26 Mei 2014

ISRA MI’RAJ : Transformasi Moral dan Sosial



seringkali seremoni mengenang peristiwa tersebut di kalangan masyarakat Muslim lebih menyerupai ajang mendengarkan dongeng tentang tahap-tahap perjalanan malam beliau dari Mekah ke Palestina, lalu menanjak menembus langit ke tujuh.

Dari waktu ke waktu, mimbar-mimbar peringatan Isra Mi’raj hanya berceloteh tentang “bagaimana” ketimbang “mengapa” peristiwa itu terjadi. Maka makna dan pesan penting bagi transformasi sosial dan moral umat manusia dari peristiwa itu pun lebih kerap tertimbun oleh ritual perayaan tahunan yang makin sarat nuansa hiburan, interest politik dan pencitraan kesalehan.



Transformasi Moral

Satu-satunya ibadah dalam Islam yang prosesi pewajibannya dengan cara “mengundang langsung“ Nabi-Nya ke Sidratil Muntaha adalah shalat. Dari cara Allah mengundang Nabi SAW untuk mendekat dan berdialog langsung dengan-Nya, shalat merupakan ibadah mahdhah yang tujuan utamanya adalah pendekatan diri secara dialogis dengan Allah yang Mahabesar.

Shalat sebagai barometer seluruh amal ibadah Muslim. Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda, “Amal manusia yang pertama kali dinilai oleh Allah adalah shalatnya; jika shalatnya baik (sempurna) maka amal-amal yang lain juga akan baik, sebaliknya jika shalatnya rusak maka amal-amal yang lain juga rusak.“ (HR Thabrani).

Umat Islam, tentu, perlu belajar shalat transformatif agar shalat kita menjadi lebih bermakna, tidak sekadar menggugurkan kewajiban. Artinya, jika ada orang yang mengaku sudah shalat tetapi masih hobi korupsi, terus-menerus berbohong, dan melakukan perilaku amoral lainnya, berarti shalatnya belum khusyuk, belum transformatif, baru sekadar shalat legal-formal.


Transformasi Sosial

Ali Syariati (dalam bukunya Sosialisme Islam) mengatakan bahwa semua Nabi dan Rasul di utus oleh Allah SWT bukan hanya untuk mengajarkan ummatnya bagaimana tata cara sholat, dzikir dan doa, namun lebih dari itu mereka di utus untuk mentransformasi kehidupan sosial.

Nabi Musa as melawan Raja Fir’aun, Nabi Ibrahim as menentang Raja Namrud, Nabi Isa as yang melawan penguasa Romawi yang akhirnya meninggal di atas salib, Nabi Muhammad SAW yang menentang kaum Qurays di tanah arab.

Substansi dari perlawanan yang di lakukan bukan hanya disebabkan karena keingkaran atas eksistensi Tuhan, namun di karenakan ketimpangan sosial yang terjadi pada saat itu.

Mencermati situasi sosial masyarakat Arab waktu itu, peristiwa Isra’ Mi’raj dapat dikatakan hadir sebagai simbol perlawanan kultural (counter of culture) atas menggejalanya budaya yang serba materialis-hedonis.

Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang bagaimana wujud intrepretasi dari peristiwa isra mi’raj dalam kehidupan sosial kontemporer. Ali Syariati mengatakan bahwa bisa saja Raja Fir’aun dan Namrud beserta berhala-berhalanya telah musnah, namun mereka telah berubah wujud dari bentuk lain yakni berhala modern, seperti rasa takut kita, peguasa yang dzalim dan lain sebagainya.

Fenomena yang terjadi di Negara Indonesia jika di ibaratkan seperti lagu Peterpan “kepala di kaki dan kaki di kepala”. Hampir semua bidang serba terbalik, pendidikannya, hukumnya, sosialnya, agamanya, ekonominya dam budayanya.


Semoga kita mampu mengintrepretasi pesan dari peristiwa isra mi’raj dalam kehidupan sosial kita masing-masing, bertransformasi dari kehidupan sosial yang buruk ke kehidupan sosial yang lebih baik.

0 komentar:

Poskan Komentar